KETIKA
EGO ITU KEMBALI MENGGELITIK
Lagi dan lagi..Aku tau ini tak seharusnya. Toh
ini adalah pilihanku sendiri. Tak ada yang memaksa. TAPI, entah kenapa ? tetap
saja ada rasa itu. Aku sendiri tak paham. Mungkinkah aku menyesal ??? Serasa
dia sang Ego terus saja mengolok-olok ku…hahaha…salah sendiri..kenapa
kamu ga nurutin apa kata aku ? rasain aja sekarang..hahahaha,(olok
Ego).
Satu hal yang pasti aku harus terima kenyataan ini. Sampai kapan pun aku tak kan pernah bisa mencoret satu mimpiku itu. Tak akan pernah. Kesempatan telah terlewatkan dan waktu pun telah tergulir. Sesal??? Mungkin ada...Tapi,,, lagi-lagi ku katakan pada diri ini,,,
Satu hal yang pasti aku harus terima kenyataan ini. Sampai kapan pun aku tak kan pernah bisa mencoret satu mimpiku itu. Tak akan pernah. Kesempatan telah terlewatkan dan waktu pun telah tergulir. Sesal??? Mungkin ada...Tapi,,, lagi-lagi ku katakan pada diri ini,,,
hey..manusia…itu pilihanmu sendiri. Tak ada seorang
pun yang memaksa kau mengambil pilihan itu. Seharusnya tak ada alasan untuk
menuai sesal…hargailah pilihanmu sendiri.
Aku mengambil pilihan ini. Aku melewatkan kesempatan itu. Bukan..bukan tanpa pertimbangan. Hari dimana siang dan malam ku penuh dengan list-list pertimbangan. Ketika aku merasa kuat untuk memilih salah satu jalan. Allah membelokkan niatku kembali bahkan di detik-detik terakhir tentu dengan cara-NYA. Air mata ini jatuh ketika ku ingat apa niat ku ? ku tanyakan pada hatiku, adakah ego bermain disana ?…hanyakah untuk sekedar mencoret deklarasi mimpi yang telah menahun tertempel di dinding kamarku. Sejujurnya tidak. Tidak hanya karena itu. Aku ingin membuktikan apa yang selama ini aku dengar. Sungguh aku ingin memperbaiki. Meski aku sadar kemampuanku mungkin tak seberapa. Tapi, aku kemudian tersadar.
Lihat. Lihatlah rumahmu sendiri. Tak tampakah dia bak seonggok gubuk di tengah megahnya bangunan di sekitarnya. Astagfirullah…
Aku kesal pada diriku sendiri. Kenapa aku ingin memperbaiki rumah tetangga sedang aku mengelak melihat rumahku sendiri?Jujur…saat itu ada kesal dalam hati. Ketika melihat mereka yang ada disekitarku enggan menjadi penghuni rumah yang tak jarang orang katakan itu lebih mirip gubuk dari pada rumah.Biarlah. Meski aku tak tahu seberapa mampu , seberapa kuat aku bertahan. Aku tak mampu berjanji mengubahnya menjadi istana. Tapi, setidaknya aku akan membuat rumah itu lebih kokoh, lebih nyaman, akan ku tambal dinding yang bolong dan atap-atap yang bocor itu ..semampuku. hingga pada akhirnya aku akan tenang meninggalkan adik-adikku dalam rumah kami sendiri.
Sadar, jasad ini takkan selamanya aku miliki.
Sadar, aku tak kan mampu selalu ada untuk mereka.
Sadar, aku tak sehebat yang terlihat.
Sadar, aku pun harus tetap memperbaiki diri agar ku mampu kuat lakukan apa yang ingin aku lakukan.
Ya..Rabb..berkahi lah rumah ini. Berkahilah kami. Dan ku mohon kuatkan hati ini . Yakinkanlah hati ini bahwa ini adalah pilihan yang terbaik.Aku tak peduli sekecil apa pun peranku di panggung kehidupan orang lain. TAPI , satu yang pasti aku adalah PEMERAN UTAMA di panggung kehidupanku sendiri...Sahabat..aku tahu kalian bukannya tak peduli. Tapi, mungkin pilihan yang kita ambil tak lah sama. Ya..memang tak harus sama. Meskipun demikian aku yakin kalian akan tetap ada. Ada disaat ku butuhkan nasehat. Ada disaat ku butuhkan penyemangat. Selamat berjuang di dunia kalian masing-masing. Ada saat dimana kita akan di kumpulkan kembali dan diminta pertanggungjawaban atas dunia yang telah kita pilih.
Tetaplah jadi bintang yang selalu membagikan cahaya kecil dalam luas nya kelam malam. Kalianlah bintang-bintang itu yang menyinari kelamnya dunia para perjuang.
Sadar, aku tak kan mampu selalu ada untuk mereka.
Sadar, aku tak sehebat yang terlihat.
Sadar, aku pun harus tetap memperbaiki diri agar ku mampu kuat lakukan apa yang ingin aku lakukan.
Ya..Rabb..berkahi lah rumah ini. Berkahilah kami. Dan ku mohon kuatkan hati ini . Yakinkanlah hati ini bahwa ini adalah pilihan yang terbaik.Aku tak peduli sekecil apa pun peranku di panggung kehidupan orang lain. TAPI , satu yang pasti aku adalah PEMERAN UTAMA di panggung kehidupanku sendiri...Sahabat..aku tahu kalian bukannya tak peduli. Tapi, mungkin pilihan yang kita ambil tak lah sama. Ya..memang tak harus sama. Meskipun demikian aku yakin kalian akan tetap ada. Ada disaat ku butuhkan nasehat. Ada disaat ku butuhkan penyemangat. Selamat berjuang di dunia kalian masing-masing. Ada saat dimana kita akan di kumpulkan kembali dan diminta pertanggungjawaban atas dunia yang telah kita pilih.
Tetaplah jadi bintang yang selalu membagikan cahaya kecil dalam luas nya kelam malam. Kalianlah bintang-bintang itu yang menyinari kelamnya dunia para perjuang.
Makassar
20,04,2014
SUARA Mpa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar