Selasa, 07 Oktober 2014

PIMPINAN ANTARA OTAK DAN HATI

Pemimpin,Antara Otak dan Hati

Sampai detik ini saya masih percaya bahwa tiap individu adalah pemimpin,minimal bagi dirinya sendiri,Saya juga yakin tiap-tiap dari mereka berpotensi salah dan yang benar berkesempatan menjadi pemimpin bagi yang lainnya...Tapi premis saya yang kedua ini sangat lemah,,,terutama karena kita sudah mengenal struktur organisasi.
Organisasi seperti yang kita tahu,,,merupakan elemen yang terbentuk dari kumpulan individu yang memiliki tujuan yang sama,seharusnya begitu...Kumpulan ini membentuk beberapa organ yang memiliki bermacam-macam fungsi dan wujud dari gabungan dari kesemuanya disebut organisasi,dalam biologi kita lazim menyebutnya sebagai tubuh.
Salah satu organ tersebut adalah ketua,,di sini saya menuliskannya sebagai pemimpin struktural yang dinyana sebagai otak sebuah organisasi...Organ ini sangat penting,lebih penting daripada jantung (sekretaris) dan paru-paru (bendahara) Karena sentralnya posisi ini, banyak yang berpendapat bahwa ketua yang baik berasal dari individu berkualifikasi terbaik.

Mengenai pendapat tersebut,,,mungkin saja benar!!!!Tapi sebuah organisasi yang baik tak hanya organisasi yang memiliki ketua yang terbaik,,,tidak!!!!Organisasi yang baik adalah organisasi yang memiliki organ-organ yang saling bersinergi,,sehingga tujuan sebuah organisasi tersebut tercapai...Karena itu,,,organ-organ yang sehat dan kompak lebih baik daripada hanya ketua yang baik.
Secara fungsional seorang ketua wajib membimbing organ-organ lainnya saya tidak menuliskannya dengan kata bawahan supaya bisa bersatu,itu adalah salah satu tugasnya...Tapi hingga saat ini saya belum pernah menemukan ketua yang benar-benar mampu menyatukan organ-organ lain. Karena apa, adalah karena struktur itu sendiri. Posisi seorang ketua tidak menguntungkan untuk mendapat kepercayaan organ-organ lainnya. Hal ini tidak lain adalah karena posisi ketua selalu diletakkan di atas organ lainnya, juga memiliki otoritas tertinggi akan sebuah keputusan.
“Lantas, siapakah yang menyatukan organ-organ dalam sebuah organisasi jika bukan ketua?” Mungkin Anda berpikir demikian.
Ada satu organ yang belum saya sebutkan. Organ ini sangat penting, meski tak pernah tampak, yakni hati. Ya, dia adalah satu individu lain yang mampu menyatukan organ-organ selain ketua, ‘seharusnya’,,, Dalam struktur organisasi hati bukan liver atau hepar dalam biologi tidak ada, tentu saja hati tak bisa dilihat,,Tapi dalam sebuah organisasi dia bisa muncul dari sisi mana saja,,,bisa saja sekretaris,bendahara,,,ataupun organ lain termasuk anggota biasa. Bisa juga hati tidak cuma satu individu, tapi dua-tiga...Itu berarti organisasi tersebut memiliki banyak hati untuk menyatukan organ-organ dalam organisasi.
Sebab hati lebih dipercaya adalah dia berbeda dari ketua yang dilebihkan secara struktural. Hati tidak dilihat secara struktural,melainkan dengan kedekatan emosional dan emosi adalah faktor penting dalam urusan suka-tak suka yang bisa menimbulkan kekompakan salah satunya,,Tapi,,,bukan berarti dengan begitu seharusnya yang memegang posisi sebagai pemimpin adalah si ‘hati’ ini. Sebabnya???Tentu ada pernah melihat orang gila?????????? Dia adalah orang yang mementingkan hatinya daripada otaknya,,,Tapi belum tentu hal itu selalu terjadi. Ketika individu ‘hati’ ini diletakkan sebagai pemimpin,kemungkinan besar organisasi tersebut menjadi lebih kompak....Tapi perlu digarisbawahi,sesuai dengan julukan–julukan yang saya berikan (hati) memiliki sifat yang mudah terombang-ambing...Ketika hati diletakkan sebagai sentral dalam struktural,,,dia berpotensi untuk menyeleweng,,,potensi sangat besar...Karena itu kita sering menemukan seseorang yang kita percaya pada awalnya (sebelum menjabat pemimpin) pada akhirnya ketika sudah menjabat menjadi sangat berbeda, menjengkelkan. Banyak yang sebelumnya sangat alim ketika sudah menjabat menjadi amit-amit. dan itu wajar, namanya juga manusia.
Karena itu, adalah baik ketika kita tidak memaksakan individu ‘hati’ menjadi ‘otak’ organisasi. Meskipun organisasi yang terbaik adalah organisasi yang dipimpin oleh otak yang juga hatinya....Tapi, percayalah, kemungkinan itu sangatlah kecil,,,,Karena itu dalam agama Islam tentunya mengatakan kita tidak diperbolehkan berhasrat menjadi pemimpin.

SUARA Mpa

1 komentar:

  1. Numpang Coment…. Entah kenapa tiba-tiba saja saya terperangkap dalam bloger ini, mungkin saja karena faktor kesamaan, kita sama-sama sedang mendambakan sosok pemimpin yang visioner, bertanggung jawab, dan yang sigap dalam menghadapi situasi genting/krusial/kisru di dalam sebuah organisasi atau lembaga. Seperti dambaan kita sebagai warga RI terhadap pemimpin republik di senayan… yang belakangan ini menebarkan aroma yang tak sedap…..heheheehe.
    Topik yang cukup menarik untuk didiskusikan ketika melihat animo dalam berlembaga atau berorganisasi belakangan ini bertendensi pada kepentingan yang bersifat privatisasi. Ya, ada benarnya jika dikatakan pemimpin yang bijak lahir dari pengikut yang setia. Sehingga analogi yang kemudian dieksposisikan terkait (Otak-Hati) bisa dikonstrusikan dalam hal hubungan antara Oraganisasi-Manajemen. Manajemen merupaka hal yang sangat urgen dalam sebuah organisasi, karena tanpa manajemen maka tujuan atau visi dari pada organisasipun pastinya tidak akan berjalan atau mandek, jika berjalanpun mungkin saja pincang. Organisasi sebagai integral dari pada manajemen yang mempunyai hubungan yang korelatif dan bersinergi. Hubungan antara manajemen dengan organisasi dapat diibaratkan sebagai hubungan antara badan dengan jiwa. Kalau badan baik tetapi jiwa tidak baik atau rusak maka badan dapat terpengaruh juga dan lama-lama menjadi rusak dan sebaliknya. Sama halnya dengan Organisasi dan Manajemen. Kalau organisasi baik tetapi manajemen kurang baik atau tidak baik maka akan mempengaruhi organisasi sehingga tidak dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalam organisasi tersebut.
    Kembali pada ulasan awal mengenai “Pemimpin”. Setiap pemimpin pasti mempunyai prospek yang baik untuk menjalankan roda organisasi, terlepas dari kepentingan sampiran. Begitupun anggota/bawahanya dalam sebuah organisasi. Pada hakikatnya semua komponen yang berkecimpung di dalam sebuah lembaga mengeinginkan yang terbaik. Tetapi perlu diperhatikan bahwa tidak semua komponen yang ada, menjalankan fungsi dan tugasnya pada satu rel atau boleh dibilang rangkap jabatan. Jika memang demikian maka bisa saja kolang-kaling bak strika/cenderung centang. Susah untuk menyatuhkan persepsi. Bisa saja bertolak belakang dengan yuridis kontitusional, yuridis konvensional dan juga yuridis operasional. Lagi pula di dalam sebuah organisasi terdapat watak yang heterogen. Nah, hal ini masuk pada rana Job Description yang berkaitan dengan Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) yang perlu dipelajari dan dipahami oleh semua komponen yang ada di dalamnya. Maka yang menjadi prioritas awal atau sangat urgen sebelum memulai sebuah fase baru dalam kepemimpinan perlu adanya pengenalan Job Description. Hemat saya bahwasanya pemimpin-lah yang lebih berperan penting dalam menjalankan amanah organisasi. Karena seyogianya pemimipin menjadi promotor utama dalam menjalankan roda organisasi. Analogi sederhananya; Sopir dan Penumpang. Jika terjadinya insiden kecelakaan maka Sang sopir-lah yang bertanggung jawab, walaupun mungkin saja ada penumpang yang lalai, misalnya; membuat gaduh suasana yang mengakibatkan sang sopir hilang konsentrasi. Menurut anda bagamana dengan tanggapan demikian??? Mari saling berbagi!!!

    BalasHapus