Kamis, 26 Juni 2014

heningkan



Hal-hal yang Tidak Boleh Terlintas dalam Fikiran

Keinginan adalah bagian dari kehidupan manusia. Manusia selalu diliputi keinginan-keinginan dalam hidupnya. Ingin menjadi ini, ingin menjadi itu, ingin begini, ingin begitu dan seterusnya. Semuanya itu wajar. Keinginan yang buruk, jelas jangan diikuti. Tetapi, keinginan yang baik pun harus hati-hati. Keinginan bila tidak diarahkan bisa menjerumuskan. Di bawah ini adalah nasihat untuk kaum Muslimin, ada beberapa keinginan yang tidak boleh terlintas dalam fikiran.

 1. Ingin Hidup Bahagia
Apakah sesungguhnya kebahagiaan itu? Bagaimana caranya manusia mendapatkan kebahagiaan? Apakah hidup bahagia itu sesuatu yang harus diinginkan atau dilamunkan atau datang dengan sendirinya? Apakah bahagia itu proses atau hasil? Yang harus diingat, kebahagiaan itu adalah produk. Bahagia adalah hasil atau akibat dari cara hidup yang sehat: berfikir sehat (positif dan lurus), berhati bersih, bertindak benar, bersikap wajar, pandai mensyukuri nikmat dari apa pun yang dimiliki, taat menjalankan agama, tidak memaksakan diri diluar kemampuan, tidak berbuat sesuatu diluar kewajaran, tidak berangan-angan yang tidak perlu dst. Bila orang memiliki sikap itu semua, hidup dijamin pasti bahagia. Yang harus terlintas dalam fikiran adalah berkeinginan dan berjuang untuk berfikir sehat, hidup sehat, berfikir dan bertindak benar, berbuat positif, mengamalkan ajaran agama dengan baik, hidup bersahaja, seadanya, bersikap sewajarnya, tidak menginginkan yang bukan-bukan, dst.
Kebahagiaan adalah hasil atau akibat dari cara hidup yang baik dan benar. Sebaliknya, ketidakbahagiaan, juga adalah akibat dari cara hidup yang tidak sehat: berfikir tidak benar, bertindak salah, bersikap tidak wajar, memaksakan diri, kurang ibadah, tidak sabar, jauh dari Tuhan yang memberikan kebahagiaan dst. Bahagia itu akibat dari pola hidup bukan sebab. Yang harus terlintas dalam fikiran adalah memperjuangan sebabnya bukan hasilnya agar hidup kita sehat, baik dan benar. Bahagia akan datang dengan sendirinya sebagai akibat logisnya. Jadi, kebahagiaan itu ada secara inherent dalam cara hidup dan jiwa yang sehat. Sebaliknya, ketidakbahagiaan juga ada secara inherent dalam cara hidup dan jiwa yang tidak sehat. Karena itulah, kebahagaiaan itu jangan diinginkan dan dibayang-bayang. Diinginkan dan dibayangkan dengan keras juga tidak akan datang bila kita tidak membuatnya diri kita mampu menciptakan dan mendatangkan kebahagiaan.
Pertanyaan sederhananya, bagaimana akan bahagia bila cara hidup dan jiwa seseorang tidak sehat? Bagaimana kebahagiaan akan datang bila cara berfikirnya tidak sehat, tindakannya banyak salah, sikap dan perbuatannya tidak terpuji, melanggar aturan-aturan, hidupnya tidak taat pada agama, tidak dekat kepada Tuhan, keinginannya yang bukan-bukan, fikirannya dipenuhi angan-angan yang melambung jauh diluar kemampuannya, dan sebagainya. Juga sebaliknya, bagaimana orang tidak akan bahagia bila dalam hidupnya ia rajin beribadah, tidak meninggalkan kewajiban agama, pandai mensyukuri nikmat, hidup menerima apa adanya, tidak berangan–angan yang bukan-bukan, tidak menginginkan sesuatu diluar kemampuan dirinya, dst.

2. Ingin Hidup Kaya
Sebagaimana kebahagiaan, kekayaan juga sama, ia adalah hasil atau produk dari sebuah proses, akibat dari rangkaian tindakan-tindakan. Kaya adalah buah dari kerja keras, disiplin, sikap hemat, rajin berderma (infaq dan shadaqah), tidak boros, kemampuan mengelola ekonomi dan do’a. Makanya, menjadi kaya tidak boleh menjadi cita-cita hidup. Yang harus dilatih dan dibiasakan adalah bekerja keras. Yang harus menjadi cita-cita dan terlintas dalam fikiran adalah hidup yang jujur, benar, hemat, dermawan dsb. Kaya tidak ada hubungannya dengan kebenaran dan kebahagiaan, ia adalah akibat dari kerja keras, kreativitas, hemat dan do’a. Biarlah kaya itu akibat saja dari kerja keras kita. Bila menjadi kaya sering terlintas dalam fikiran dan menjadi tujuan, maka kemungkinan, untuk mencapai kekayaan itu, seseorang bisa melakukan apa saja menghalalkan segala cara, tak peduli halal haram, untuk mencapai keinginannya, yang penting cepat kaya. Akibat kesalahan cara berfikir ini juga, yaitu kekayaan sangat diinginkan, orang akhirnya akan menempuh cara-cara instan yang tidak sehat, tidak wajar, tidak proporsional yang semua itu dilarang oleh agama. Misalnya, berjudi, mengundi nasib, bersaing tidak sehat, bersikap rakus, datang ke dukun, investasi dengan keuntungan yang tidak rasional, dan sebagainya yang semua itu bisa mendatangkan kerugian, kecelakaan diri dan menjerumuskan ke jurang kenistaan.
3. Ingin Hidup Berkuasa
Kekuasaan juga semestinya adalah produk dan kepercayaan bukan keinginan yang dikejar–kejar. Kalau kekuasaan didapatkan sebagai produk kepercayaan maka Insya Allah akan ringan menanggungnya. Sebaliknya, bila diinginkan akan berat tanggungjawabnya sebagai amanat. Tentang ini Rasulullah s.a.w berpesan kepada sahabatnya Abdur Rahman: ”Wahai Abdur Rahman, janganlah kamu melamar memohon menjadi pejabat. Sesungguhnya, bagimu jika diberikan jabatan dengan cara memohon maka itu akan menjadi tanggung jawab. Dan jika diberikan jabatan itu tanpa dimintanya, maka itu akan lebih ringan bagimu.” (HR. Muslim). Tapi orang umumnya mengejar–ngejar kekuasaan karena dalam kekuasaan orang mengidam–idamkan fasilitas, kemudahan, kekayaan harta benda, pengaruh, penghormatan orang dan sebagainya. Ini cara berfikir yang tidak sehat, jiwa yang sakit dan logika yang salah. Karena salah, maka orang yang mengharapkannya tidak akan mendapatkan itu semua dari kekuasaannya. Kalaupun mendapatkannya, hanya sebentar, semu dan akhirnya akan celaka. Yang diharapkannya malah sebaliknya. Tetapi, selama orang tidak mau berfikir, merenung dan introspeksi (muhasabah), apa pun yang dirasakannya tetap saja tidak menjadi pelajaran baginya. Harapan yang terbalik ini tidak akan menghentikannya dari berfikir tidak sehat dan salah, semuanya dianggap biasa-biasa saja.
Kekuasaan yang diinginkan apalagi dengan dikejar-kejar dengan melakukan apapun demi mendapatkannya, pasti akan membawanya kepada jurang kenistaan. Kenistaan ini sering dalam kenyataan-kenyataan yang tidak terasa: citranya semakin buruk ketika berkuasa, keburukan-keburukannya jadi terbongkar, terbuka dan diketahui orang banyak, orang-orang kecil atau bawahannya mengutuknya karena bersikap tidak adil dan dianggap tidak memperhatikan mereka, kualitas ruhani dan sikap mentalnya yang buruk semakin ketahuan ketika berkuasa karena misalnya menjilat, memberi hormat yang tidak perlu dan berlebihan pada atasannya, penghormatan diberikan bukan atas dasar kebenaran, akhlak mulia, keadilan dan kejujuran melainkan karena takut tidak terpakai, karena takut dicopot dari jabatannya dan sebagainya.
Kekuasaan mestinya adalah produk bukan keinginan. Produk dari apa? Produk dari jiwa kepemimpinan, ide-ide yang cerdas dan visioner, kemampuan manajerial yang handal, kemampuan berpolitik yang bersih dan cantik, kejujuran, sikap yang santun, keterbukaan, kemampuan memecahkan masalah, kemampuan memperhatikan orang kecil, memperjuangkan nasib orang banyak, dan sebagainya. Bila orang memiliki itu semua, maka kekuasaan pasti akan didapatkannya, tanpa mesti dikejar–kejar. Kenyataannya bahwa kekuasaan itu dikejar–kejar, karena jelas, kemampuan tidak ada, modal untuk dipercaya orang tidak punya, akhirnya kekuasaan itu dikejar untuk kepentingan diri, kelompok, nafsu, kekayaan dan sebagainya. Kemudian, karena lingkungan politik yang kotor, akhirnya mereka yang mengejar–ngejar itulah yang justru berkuasa dan orang-orang yang bersih dan jujur, tidak ambisi, tersingkir menjadi orang yang dipimpin.

4. Ingin Hidup Bersih dari Dosa
Manusia adalah makhluk yang tidak terlepas dari salah, khilaf dan dosa. “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kesalahan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (Al-Zalzalah: 8-10). Rasulullah s.a.w mengatakan: “Al–insânu ‘ala al-khaththa” (manusia adalah tempatnya salah). Tapi, selain salah dan dosa, manusia ada banyak sisi baiknya. Dalam kebaikan dan takwanya, manusia juga tidak terlepas dari berbuat salah dan dosa. Dengan demikian, salah dan dosa menjadi ciri kemanusiaan itu sendiri. Bersih dan suci dari dosa adalah sesuatu yang tidak mungkin karena manusia bukan malaikat. Yang dianjurkan dalam agama bukan bersih dari dosa, melainkan ketika berbuat salah dan dosa segera instrospeksi kemudian istighfar dan bertaubat. Kalaupun ingin bersih dan suci harus melalui proses penyucian (taubatan nasuha) bukan lewat “tidak pernah.” Karena bersih dari dosa adalah tidak manusiawi dan tidak mungkin, maka berangan-angan untuk bersih dari salah dan dosa adalah perbuatan yang sia-sia. Seorang Muslim yang baik harus meninggalkan perbuatan yang sia-sia. Seorang Muslim yang baik bukan mereka yang tidak pernah berbuat salah dan dosa, melainkan segera introspeksi dan bertaubat di setiap melakukan kesalahannnya.
Allah dalam Al-Qur’an banyak menjelaskan bahwa Dia sangat Maha Pengampun. Sebesar apapun dosa kita, ampunan dan ridha Allah tetap lebih besar. Itulah Tuhan yang sebenarnya. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran: 133–136). Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah s.a.w bersabda: “Semua dosa kemungkinan akan diampuni oleh Allah, kecuali orang yang mati kafir dan membunuh orang mukmin dengan sengaja” (HR Nasa’i). “Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia telah menulis dalam kitab catatan disisi–Nya di atas Arsy: ‘Inna rahmatî ghalabat ghadhabî’ (Sesungguhnya rahmat–Ku mendahului murka–Ku).” (HR. Muslim).

5. Ingin Hidup Serba Bisa
Hidup serba bisa adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi manusia. Tidak ada manusia yang hidupnya serba bisa. Membayangkan kita menjadi manusia serba bisa adalah perbuatan sia-sia yang tidak ada manfaatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar